Wednesday, April 4, 2012

Sharing Syarat Pernikahan Katholik & Persiapannya

Pengalamanku Mempersiapkan Pernikahan (Khususnya Persiapan Pernikahan Gereja Katholik)



Halo calon pengantin. Untuk para calon pengantin, terutama calon pengantin Katholik, pasti selalu bertanya apa saja sih yang harus disiapkan untuk menikah secara Katholik. Berdasarkan pengalaman saya menikah dulu, di sini akan saya share apa saja yang harus disiapkan.



Pertama-tama, tanggal menikah. "Ya.. iyalah Mbak, klo yang itu mah sudah pasti …” (pasti beberapa akan komentar seperti itu). Tapi eits… bukanlah hal mudah untuk pilih tanggal loch. Misalkan untuk beberapa etnis, biasanya mereka akan menentukan “hari baik”. Misalkan, kebetulan saya suku Jawa (bukan maksud saya berbicara tentang kesukuan dan rasisme, hanya untuk contoh saja), orang Jawa biasanya menentukan “hari baik” untuk melakukan sesuatu berdasar dari penghitungan tanggalan Jawa. Lalu, ketika sudah mendapatkan tanggal “hari baik” ternyata tanggal tersebut sudah penuh untuk agenda gereja karena ternyata dapat tanggal “hari baiknya” terlalu mepet untuk daftar, atau Pastur/Romonya sudah ada agenda lain, sehingga tidak bisa memberkati sakramen perkawinan, dll … berarti harus mencari “hari baik” lainnya :).

Untuk mendaftarkan jadwal rencana menikah di Gereja Katholik, paling tidak 3 bulan sebelumnya (kecuali untuk kasus khusus). Jadi contohnya, saya menikah di bulan Oktober 2010, saya sudah harus mendaftarkan ke gereja sejak bulan Juli 2010.

Langkah kedua, menentukan Romo yang dipilih untuk meneguhkan/memberkati perkawinan.
Apa Romo dari Paroki tempat menikah atau Romo tamu? Kalau Romo tamu, nanti sekretariat paroki akan buat surat pengantar untuk Romo tersebut.

Langkah ketiga, menentukan dan meminta kesediaan orang-orang yang bakal terlibat saat Sakramen Perkawinan.
Mereka adalah: 2 orang saksi nikah, kelompok koor, wali keluarga untuk menyerahkan mempelai pada Romo di awal Misa, 2 orang Lektor sekalian untuk doa umat, biasanya 4 orang pembawa persembahan, wakil keluarga untuk menyampaikan ucapan terima kasih.

Langkah keempat, menyiapkan syarat-syarat administrasi pernikahan. 
Sekretariat Paroki akan memberikan selebaran berisi daftar syarat perkawinan yang harus dilengkapi dan formulir-formulir yang harus kita isi. Selain syarat Gereja, kita juga diminta menyiapkan persyaratan menikah secara sipil. Tapi nanti yang akan mengurus ke Catatan Sipilnya semua gereja. Waktu itu saya menikah di Gereja Mlati, Sleman, Yogyakarta. Tapi, syarat menikah untuk semua Gereja Katholik di Indonesia, kurang lebih syarat-syaratnya sama. Kadang-kadang ada beberapa gereja menambahkan beberapa kebijakan. Di bawah ini daftar syarat-syaratnya secara umum dan beberapa catatan tambahan dariku:



Syarat Gereja:
1. Kutipan surat baptis terbaru (berlaku 6 bulan) => bisa diminta di Paroki tempat dulu dibaptis.
2. Sertifikat kursus perkawinan yang asli. => Jadi waktu mau daftarkan jadwal perkawinan, sekalian tanya info mengenai kursus, dan daftar sekalian. Untuk kursus perkawinan tiap paroki punya jadwal sendiri-sendiri, jadi silakan konfirmasi ke paroki masing-masing. Catatan: untuk mengikuti kursus, kedua calon pengantin tidak harus kursus di paroki yang sama (memang akan lebih baik kalau bersama-sama), misalkan calon pengantin laki di Jakarta, calon pengantin perempuan di Jogja.
3. Pengantar Lingkungan/Wilayah (dengan diketahui Pastur Paroki kalau mempelai dari luar Paroki tempat menikah). => Formulirnya dari Sekretariat Paroki. Tinggal isi & keliling minta tanda tangan :)
4. Mengisi blanko isian dari Sekretariat Paroki
5. Melaksanakan Kanonik (bila salah seorang mempelai non Katholik, harus mengajak 2 orang saksi untuk mendapat dispensasi/surat ijin) => Kanonik itu proses wawancara calon mempelai dengan Pastur di Paroki tersebut untuk lebih memastikan dan memantabkan niat menikah kedua mempelai, juga untuk cross check ada tidaknya halangan untuk menikah.
6. Menyerahkan iura stolae (banyak orang  taunya sebagai stipendium, walaupun sebetulnya beda arti) kepada Romo yang meneguhkan/yang memberkati sakramen.
7. Lapor / memberitahukan Romo/Sekretariat Paroki paling tidak 3 bulan sebelumnya.

Syarat Sipil:
1. Fotokopi KTP calon mempelai (yang dilegalisir Kelurahan).
2. Fotokopi KTP 2 orang saksi (dilegalisir di Kelurahan).
3. Fotokopi KTP orang tua/wali (dilegalisir di Kelurahan). => Fotokopi KTP ortu/wali, biasanya untuk calon mempelai yang masih di bawah umur.
4. Fotokopi Akte Kelahiran calon mempelai (dilegalisir di Catatan Sipil). => Catatan Sipil yang dimaksud tidak harus Catatan Sipil tempat Akta dibuat, tapi bisa di Catatan Sipil sesuai KTP domisili.
5. Surat Keterangan dari Kelurahan bagi calon. => minta ke Kelurahan surat keterangan untuk menikah di gereja, sebetulnya 1 hari bisa selesai, tapi kadang-kadang bisa sampe seminggu ngurusnya (tergantung petugas Kelurahannya :) ).
6. Surat keterangan sehat bagi kedua calon mempelai. => Bisa periksa di Puskesmas aja kok. Mudah, murah, dan cepat, kurang lebih bayar Rp 2.000,- aja (asal puskesmas sesuai wilayah KTP, kalau beda biasanya Rp 4.000,-)
7. Surat keterangan suntik TT, bagi calon Ibu. => sekalian periksa di Puskesmas, sekalian suntik TT. Tapi yang suntik TT cuma yang perempuan saja. (karena aku periksa & suntik TT di Puskesmas yang tidak sama wilayah dengan KTPku, aku bayar Rp 40.000,- Mungkin kalau Puskesmas yang sesuai KTP biayanya cuma Rp 10.000 - Rp 20.000)
8. Pas foto ukuran 4x6 berdampingan 6 lembar. => Biasanya berlatar warna biru, dan posisi foto horizontal.
9. Surat keterangan belum pernah menikah dari Kantor Catatan Sipil bagi calon yang bukan ber-KTP Sleman. => Tapi misalkan kedua mempelai dari Kabupaten yang sama, surat keterangan ini tidak perlu.
10. Mengisi blanko isian dari Kantor Catatan Sipil Sleman. => Sekretariat Paroki memberikannya di awal beserta formulir lain yang perlu diisi.
11. Surat/Akta Kematian (fotokopi dilegalisir di Kelurahan) / Akta Cerai (Asli) bagi yang sudah pernah menikah sebelumnya.
12. Surat ijin Komandan, bagi anggota TNI/POLRI.
13. Surat Kerelaan / Ijin orang tua bagi:
     • Bagi laki-laki kurang < 21 tahun dan bagi perempuan < 19 tahan, bermaterai Rp 6.000,-
     • Akta Kelahiran dikeluarkan Pengadilan Negeri  bagi calon laki-laki < 19 tahun, dan bagi perempuan < 16 tahun (fotokopi dilegalisir).
14. Surat Pindah Agama bagi calon ber-KTP tidak Katholik (bermaterai Rp 6.000,-). => Ini hanya untuk formalitas saja, jadi tidak perlu betul-betul pindah agama.
15. Fotokopi SBKRI / Surat Ganti Nama bagi calon keturunan.
Semua syarat Sipil tersebut di atas, dibuat rangkap 2 (dua), dan urusan ke Catatan Sipil dilaksanakan oleh Sekretariat Paroki.

Biaya administrasi:
1. Menyerahkan biaya perkawinan gereja / sipil sejumlah Rp 125.000,-.  (Waktu itu tahun 2010, tahun sekarang mungkin sudah ganti harga. Bisa jadi biaya ini berbeda untuk tiap Paroki, karena besaran mengurus ke Catatan Sipil juga berbeda-beda di tiap Kabupaten/Kotamadya.)
2. Biaya pemakaian listrik gereja untuk pengambilan film minimal Rp 50.000,-  (Kalau tidak pakai shooting tidak perlu kasih, tapi kalau mau sukarela kasih juga tidak apa-apa.)

Untuk pengurusan semua syarat di atas, kalau cepat kira-kira 1 minggu sudah selesai. Tapi waktu itu, karena ngurus sendiri & disela-sela hari kerja, jadi waktu yang kuperlukan sampai sebulanan :). Untuk pengumpulan syarat-syarat itu ke Sekretariat Paroki paling lambat 1 bulan sebelum tanggal pernikahan. Dan setelah penumpukan syarat tersebut, Sekretariat Paroki akan buatkan janji pertemuan untuk Kanonik dan pertemuan Pastur dengan keluarga calon, kedua calon, dan para saksi.

Langkah kelima adalah mempersiapkan buku panduan ibadat.


Langkah keenam adalah berbelanja semua kebutuhan untuk Sakramen Pernikahan. Apa saja yang musti dibeli / disiapkan:
(Benda Suci ada di dalam kotak merah sebelah kanan)

Cincin sepasang (ini bukan keharusan, tapi kalau mau ada tukar cincin, otomatis beli cincin. Cincinnya tidak perlu emas, perak juga boleh).
Benda suci sebagai simbol bekal untuk memulai kehidupan baru keluarga Katholik. Benda suci itu berisi : Alkitab, Rosario, Salib, dan patung keluarga kudus. Benda suci ini biasanya ada yang sudah dijual paketan di toko-toko paroki, atau toko yang menjual keperluan ibadah, kalau di Jogja contohnya seperti di Toko Kanisius. lengkap dengan bungkusan “parcel”nya,
Buket bunga persembahan dan buket bunga untuk Bunda Maria plus bunga pengantin, kurang lebih perlu 3 buket bunga.
• Kadang-kadang untuk persembahan pakai parcel buah, uang, atau kebutuhan sehari-hari (kalau saya seperti teh, gula, kopi). Ga harus WAH yang penting iklas mempersembahkan.

Sampai saat ini, kira-kira itulah langkah-langkah persiapan pernikahan & syarat Gereja Katholik.

Untuk sharingku selanjutnya, masih seputar pernikahan, aku akan sharing persiapan pernikahanku .

18 comments:

  1. Thanks sob Infonya, mampir dimari juga yach...
    www.tubeave.com

    ReplyDelete
  2. Mbak, saya mau tnya syarat cat.sipil nmr 9. Di gereja katolik saya tidak ada tapi GKJ calon ada syarat itu (kita nikah d GKJ pd akhirnya). Tapi cat.sipil Solo tdk mmengeluarkan surat semacam itu dan cukup dr kelurahan. Dulu calon mbak gimana? Arau pengalaman mbak bener ada surat tsb dr cat.sipil? Terimakasih

    ReplyDelete
  3. kalau mau nikah butuh perawatan juga ya biar makin sempurna acaranya hhe

    ReplyDelete
  4. mbak mau nanya waktu pling ideal untuk surat keterangan suntik TT brp lama ngurusnya dari hari H

    ReplyDelete
  5. mbak, syarat gereja point 3 itu dari kedua mempelai apa satu aja? Trims

    ReplyDelete
  6. Mbak Mau Tanya,
    Untuk cincinYa yg buat tukar cincin,ITU yg beli dari pihak laki2 semua atau beli sendiri2 ya,agak bingung INI soalNya
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. BIASANYA sih yang beli cincin pihak laki-laki. Tapi tidak ada ketentuan khusus siapa yang menyiapkan. Kalau saya karena yang mengatur acara nikahan hanya saya dan calon suami waktu itu (berusaha tidak merepotkan keluarga), jadi kami beli bareng2 (uang berdua).

      Delete
  7. Mba, kebetulan pasangan saya beda agama, mo nikah di katolik, hanya terbentur di syarat cacatan sipil yang harus sama sama katolik di KTP, pemecahannya gimana ya mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo!! Sebelumnya thanx dah mampir di Diary Melda. Hmm waktu saya dulu, dari gereja menyertakan formulir 'Surat Pernyataan Pindah Agama' utk pasangan beda agama. Tapi itu hanya formalitas saja untuk di catatan sipilnya.
      Apa dari gereja tidak disertakan?
      Tapi solusi yang terbaik adalah tanyakan ke sekretariat gereja.
      Semoga semuanya berjalan lancar ya. Tuhan memberkati

      Delete
  8. Terimakasih mbak informasinya sangat bermanfaat saya menjadi tambah wawasan, kebetulan saya juga baru mengulas tentang Syarat Pernikahan Beda Agama Menurut Islam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 ... thx juga sudah posting hal2 yg bermanfaat. Itulah gunanya blogs. :) Happy blogging

      Delete
    2. Sama2 ... thx juga sudah posting hal2 yg bermanfaat. Itulah gunanya blogs. :) Happy blogging

      Delete
  9. Mbak, saya fany. Saya mau tny kalau utk saksi pernikahan itu syaratnya apa y? Siapa yg boleh jd saksi pernikahan? Terima kasih

    ReplyDelete
  10. Mbak, saya fany. Saya mau tny kalau utk saksi pernikahan itu syaratnya apa y? Siapa yg boleh jd saksi pernikahan? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya saksi pernikahan itu yg sudah menikah, sepasang suami istri lebih baik. Tapi tidak harus. Biasanya para saksi ini adalah orang yang dipercaya & dekat dengan mempelai/keluarga. Kalau mempelai beds agama, saat kanonik nanti mereka juga harus hadir Dan mendukung si calon mempelai dalam wawancara dengan pastur. Semoga menjawah pertanyaannya Mbak Fany. Terima kasih sudah mampir di diary melda

      Delete
  11. Mbak. Kalau untuk biaya di gereja total berapa ya mbak lengkap dengan koor dan stipendium tapi tanpa cincin. Trims

    ReplyDelete
  12. Mba klau saya kerja d jakarta , pasangan kerja surabaya apa skrg masih bsa klau kursus nya masing2,masalahnya saya asli pwkerto , pasangan jogjaa , saya d baptis d purworejo ... terus saya harus menikahnya di mna ? Di purworejo atau purwokerto . Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang saya tau sih bisa. Tergantung gereja dan minta pengantar. Utk menikah digereja Bisa dimana saja, tp Gistia& pasangan harus minta pengantar dr gereja asal masing2. Setiap warga gereja punya Kartu Keluarga Katholik. Jd ngurusnya digereja tersebut. Coba deh utk info lbh lengjap & akurat tanya ke sekretariat Paroki tempat rencana kalian menikah. Semoga bermanfaat. Thx for blogging :)

      Delete