Saturday, January 14, 2012

Jalan-jalan Ke Indocina (Bangkok, Thailand)

 Sekarang saya mau cerita tentang jalan-jalan saya ke Bangkok, Thailand. Tapi sebelumnya saya perlu ceritakan tentang perjalanan dari Siem Reap, Kamboja ke Bangkok, Thailand. Karena disinilah cerita yang menarik dimulai…

Dari Siem Reap kami naik bus (pesan tiketnya via hotel). Seperti layaknya di Indonesia, di sana juga pakai sistem ‘jam karet’. Jadwalnya jam 8 pagi, tapi datang jam 8:30. Bus yang kami tumpangi besarnya ¾ dari bus AKAP di Indonesia. Dalam perjalanan ada mampir 1 kali untuk refreshment jam 1 atau jam 2 siang. Biasanya refreshment hanya 15 – 30 menit lalu berangkat lagi. Waktu kami ke tempat bus kami parkir, kok busnya sudah tidak ditempat. Kami sedikit panik, karena beberapa barang ada di bus itu. Lalu kami melihat di seberang jalan kurang lebih 25 meter, disanalah bus kami, sedang diperbaiki karena ban bocor. Akhirnya kami menunggu di bawah terik matahari, asap kendaraan yang lalu lalang. Kira-kira satu jam kemudian kami jalan lagi. Lalu sampailah kami di perbatasan. Turun dari bus, mereka bilang diseberang nanti ada bus lain yang sudah tunggu.


Pertama kami antri di loket imigrasi (tempatnya seperti di loket pasar malam) untuk minta cap keluar Kamboja.  Sesudah itu, kami mengurus dokumen untuk masuk Thailand. Kantornya kedua Negara tersebut amat sangat jauh berbeda. Kantor imigrasi Kamboja, panas, kecil, dan sumpek. Sedangkan kantor imigrasi Thailand, ber-AC, lega, dan lebih bersih.

Selesai mengurus ijin masuk, kami tunggu bus kami bersama penumpang yang lain. Kurang lebih setengah jam kemudian busnya datang. Tapi ternyata yang datang bukanlah bus, melainkan truk dengan tutup dan kursi yang membujur di kiri dan kanan bak truk. Katanya karena bis yang seharusnya datang sedang direparasi. Jadi kami naik ke truk, ke tempat pemberhentian/warung makan. Di sana kami menunggu bus yang membawa kami ke Bangkok datang. Akhirnya busnya datang juga. Bus yang menjemput setidaknya lebih baik daripada bus dari Siem Reap, Kamboja. Setelah itu kami akan siap-siap berangkat, tapi apa daya, busnya rusak lagi. Jadi kami menunggu lagi.

Selesai di reparasi, kami berangkat, waktu itu kira-kira jam 2 atau 3 sore. Lalu waktu kami sampai di jalan tol (walaupun tanpa gerbang tol), kira-kira jam 6 sore, tiba-tiba di dalam bus ada asap tipis yang makin lama makin menebal. Para penumpang langsung meminta sopir untuk menghentikan busnya.

Hari sudah gelap, di jalan tol, dan kami tidak tahu situasi atau nomor telepon emergency pula. Si sopir & kernet bus angkat tangan dalam hal perbaikan mobilnya. Mereka juga bilang tidak ada bis cadangan lain yang bisa untuk jemput & antar kami. Akhirnya kami menyetop taksi, tawar menawar, dan akhirnya dapatlah harga 300 Baht untuk mengantar kami sampai hotel. Untuk nominal awal 300 Baht sepertinya mahal, tapi waktu bertaksi sampai ke hotel, ternyata cukup jauh, jadi harga segitu termasuk murah juga… :)

Sampailah kami di hotel Baankaew Mansion / Xuan Mini Hotel di jalan Pham Ngu Lao 185/34, distrik 1. Tempatnya lumayan nyaman dan murah. Kurang lebih Rp 200.000 – Rp 300.000 per malam, fasilitasnya AC, hot water shower, kulkas, TV, air minum, dan sarapan, free internet access (mereka ada 1 PC yang bisa digunakan untuk online para tamu). Kalau bertiga, kan bisa patungan masing-masing Rp 100.000 per malam. Cukup murah bukan :).

Karena sudah malam, dan kami belum makan, kami mencari tempat makan di dekat area itu, adalah sebuah warung makan, yang sepertinya enak dan terjangkau. Kami mampir disana pilih menu. Karena tidak tau tulisannya, di warung itu ada foto menu. Kami tinggal tunjuk aja fotonya. Dan ternyata enak sekali. Jadilah warung makan favorit kami selama disana, terutama untuk makan malam.

Keesokan paginya, kami memulai ‘ekspedisi’ kami. Tujuan kami di Bangkok lebih untuk shopping. Jadi kami memutuskan untuk ke China Town Market, Hindi Market, dan pastinya Chatuchak weekend market. Selama di sana kami berkendara Subway (kereta bawah tanah) dan naik tuk-tuk (seperti delman motor tradisional).

Saya mau sharing tentang Subway di sana, karena di Indonesia belum ada (optimis semoga dibuat). Kurang lebih 1 – 2 km dari hotel, ada stasiun subway Ratchadapisek. Kami tinggal di Bangkok untuk 4 hari 3 malam, jadi kami beli tiket Subway terusan untuk 3 hari. Karena Subway menawarkan berbagai paket: harian; per 3 hari; mingguan; dan bulanan. Jadi untuk karyawan / murid sekolah yang rutenya selalu naik Subway, lebih hemat kalau ambil paket bulanan. Cukup murah kok, tapi saya lupa berapa, yang pasti terjangkau. Tiket passnya beda-beda, kalau yang per 1 hari bentuknya koin/chip, sedangkan yang per 3 hari – bulanan bentuknya seperti kartu ATM. Nanti tinggal tempel di mesin pintu, terus palang terbuka dan kita masuk ke platform kereta. Kereta di sana bersih bahkan stasiunnya juga bersih, ber-AC (dalam hal ini AC-nya berfungsi dengan baik, tidak rusak). Naik Subway enak sekali, cepat, murah, dan nyaman. Dari ujung kota ke ujung kota satunya hanya butuh waktu beberapa menit saja. Jadi kalau ada yang jalan-jalan kesana, boleh tuh dicoba naik Subway :).

Tentang Tuk-tuk, untuk daerah wisata Bangkok ini dianggap sebagai alat transportasi yang eksotis. Karena banyak turis yang mau merasakan naik Tuk-tuk, harga tuk-tuk bisa melambung tinggi kalau tidak pintar menawar. Tapi yang jadi masalah juga, karena kita di lokasi asing, dan belum tahu berapa jarak tempat yang kita tuju, jadi kita tidak bisa menetapkan harga yang pantas untuk menawar. Ada kisah menarik ketika kami naik tuk-tuk. Si sopir tuk-tuk ini bagaikan ‘koboi’ tua trendi (bukan dalam hal penampilan loh, tapi lebih ke personalitasnya). Dia cerita, dulu waktu ada pembuat film James Bond (yang dibintangi Pierce Brosnan & Michelle Yeoh) ada adegan kejar-kejaran. Si sopir bilang (kurang lebih seperti ini), “kejar-kejaran kalau pakai tuk-tuk… mini-mini… wush-wush…” yang artinya kurang lebih juga demikian, “kalau kejar-kejaran pakai tuk-tuk, karena tuk-tuk mini/kecil, dia bisa menyalip di antara  kendaraan lain dan wush-wush berlari kencang”. Kami tertawa waktu si sopir tuk-tuk cerita. Yang lebih lucu lagi, dia mempraktekkan sambil mengemudi tuk-tuk-nya. Walah-walah … kami jadi sport jantung, tapi juga geli… :). Dia ngebut, nyalip diantara mobil dan batas jalan (lebarnya pas selebar tuk-tuk), dan ngeram-ngerem semaunya. Kalau sedang berhenti lampu merah, dia pasti menyisir rambut … HAHAHAHA … 


Sesudah itu, kami wisata air, melihat Bangkok dengan naik perahu motor kecil, menyusuri sungai. Si pemilik perahu pertama kasih harga 600 Baht, lalu kami tawar 400 Baht, dan dia langsung OK… dalam hati, wah berarti tadi nawarnya masih ketinggian… :p, tapi tak apalah. Kan ceritanya kami jadi turis. Lumayan menarik juga, rumah-rumah atau bangunan lain disepanjang pinggir sungai pasti memiliki dermaga kecil, dan perahu sendiri untuk transportasi. Kemudian di tengah perjalanan kami diberi roti untuk dilemparkan ke sungai. Waktu roti kami lempar ke sungai, ikan-ikan bermunculan dan memakan roti tadi. Katanya kalau bisa mengelus ikan tersebut, bisa dapat keberuntungan. Tapi takut juga, karena ikannya lumayan besar. Sesudah itu juga ada pasar apung, jadi penjaja souvenir & makanan jualan dengan perahunya. Si tukang perahu kami, berhenti juga, kalau-kalau kami mau belanja. Tapi kami bilang terus saja. Wisata sungai kami kira-kira memakan waktu 1,5 – 2 jam. Sesudah itu kami lanjutkan berjalan-jalan ke Pasar India & China Town. 


China town di Bangkok menarik, sepanjang jalan (yang lebih panjang dari jalan Malioboro semuanya perihal Chinese stuffs. Makanan / jajanan di Bangkok, menurut saya ditata dengan cantik dan menarik, sehingga menambah selera & menarik orang untuk beli. Selain itu rasanya memang enak.

Keesokkan harinya adalah hari Sabtu, hari dibukanya pasar Chatuchak. Karena Chatuchak adalah pasar akhir minggu (weekend market), bukanya hanya di hari Sabtu & Minggu saja, dari pagi, kira-kira jam 8 sampai jam 6 sore. Kami datang dan tercengang… pasarnya luas sekali, dagangannya beraneka ragam & keren-keren semua. Rasanya ingin memborong.

Dibagian pusat informasi, mereka memberikan peta pasar Chatuchak, supaya turis bisa tahu stand-standnya dan tempat-tempat istirahatnya. Untuk merokok, kami mencari tempat istirahat dan pertunjukan, di situ ada atraksi panggungnya, kesenian daerah, musik & tari, dll. Di dekat situ, banyak yang jual buah-buahan potong. Buahnya segar-segar, warnanya cantik, ditata cantik, dan rasa buahnya segar abis. Jajanan yang menarik hati juga ada banyak. Orang Thailand memang pintar menata jajanan tampak cantik dan menarik.


Satu hari keliling Chatuchak memang tidak cukup waktunya. Jadi keesokan harinya kami kembali lagi ke sana, dan sudah tahu apa saja yang ingin kami beli & sudah memperkirakan berapa yang akan kami habiskan untuk belanja. Kami membeli banyak kaos, karena bahan dan desainnya bagus-bagus, jadi kami borong untuk oleh-oleh dan dipakai sendiri. Lalu ada tas yang lucu dan menarik sekali. Abul-abul di sana luar biasa, dari fashion kepala sampai kaki semuanya keren. Rasanya bawa uang sebanyak apa pun tetap kurang … hahaha. Tapi isi rekening dan kantung memang tidak memungkinkan untuk borong semua.

Sesudah itu, jam 6 sore kami kembali ke Hotel dengan membawa tas besar belanjaan. Istirahat dan mandi, sambil packing untuk persiapan pulang keesokan harinya. Kemudian cari makan malam, pulang dan tidur setelah acara berbelanja seharian.

Besoknya, kami berangkat pulang ke Indonesia. Liburan pun berakhir. Tapi kenangan indah selalu teringat dan dibagi lewat blog ini. Jadi untuk teman-teman yang berencana hendak liburan ke Indocina, semoga kisah jalan-jalan ini berguna.

SELAMAT BERLIBUR !!!

4 comments:

  1. kesiannya..perjalanan yang jauh tapi bas nye rosak..very adventure nih ;)

    ReplyDelete
  2. TayarGolek @: Terima kasih sudah mampir di Diary Melda. Hehehe... betul kami tunggu lama untuk reparasi bus. Tapi itu yang menarik dari traveling, tidak semuanya harus fun, kadang-kadang memang ada yang sulit, supaya komplit memorinya :)

    ReplyDelete
  3. I strongly agree to your blog ....
    i think is Very Cool ..awesome
    Keep Posting
    Do not forget to Clic My Name

    ReplyDelete