Friday, July 8, 2011

Jalan-jalan ke Indocina (Vietnam)


Februari, tahun 2009, aku diajak jalan-jalan ke Vietnam – Kamboja – Thailand, Indocina oleh bosku, waktu libur tahunan kantor. Kebetulan setiap akhir Januari – awal Februari, selalu libur selama 2 minggu setiap tahunnya. Lumayan, ongkos tiket – hotel – makan disubsidi kantor. Aku tinggal nyiapin uang untuk jajan dan beli oleh-oleh.
Persiapan liburan sudah dimulai dari 4 bulan sebelumnya. Sedangkan aku, sudah menabung dari setengah tahun sebelumnya. Kami sama-sama survey mau jalan kemana saja, survey hotel murah, dan tiket murah; maklum kami mau merasakan backpacker-an J.
Di bandara internasional Soekarno-Hatta, kami mengurus dulu administrasi imigrasi. Mengisi berkas-berkas dan minta cap di paspor kami. Sudah itu, kami naik pesawat dan tinggal landas. Pertama tujuan kami adalah Ho Chi Minh City, Vietnam. Sesampainya di Ho Chi Minh, sudah malam, kami naik taksi dari bandara langsung menuju hotel. Kalau di Vietnam pakai model distrik-distrik, jadi dari bandara kira-kira kami melewati 5 distrik.
Di Vietnam, makanannya enak-enak dan lumayan murah, sama seperti di Indonesia. Favorit kami, namanya Banh Mi, bentuknya mirip hot dog, tapi diisi dengan sayuran macam-macam, daging yang bermacam-macam (ayam, babi, sapi), dan telur. Harganya cuma 20.000,- Dong Vietnam atau Rp 10.000,-. Murah bukan? J. Lalu kami sebuah warung buah, dan lihat duren yang besar-besar & harum, sampai kami berliur. Setelah ditimbang dan tawar-menawar, kami membeli duren seharga Rp 80.000,-, yang besar sekali, yang harum sekali, dan manis sekali. Intinya duren itu enak sekali... Hmm tidak rugi beli dengan harga segitu.
Di Ho Chi Minh City, jalanannya bersih sekali. Padahal di jalan tidak ada tempat sampah pinggir jalan, tapi jalanan bersih sekali. Kami sampai tidak tega membuang puntung rokok kami sembarangan. Kami pasti bawa plastik kecil untuk tempat sampah selama jalan-jalan. Kami selalu berkata, andaikan di Indonesia seperti ini.. bersih & rapi. Yang kurang oke dari Vietnam hanyalah lalu lintasnya. Betul-betul tidak tertib, tanpa aturan, dan tak beradab :(. Menurut pendapatku, perempatan di sana semua lampu lalu lintasnya berwarna hijau di tiap arah mata angin, di saat yang bersamaan pula. 


Hari pertama, kami bangun pagi, sarapan Banh Mi, lalu ke pasar setempat. Tapi, karena kami terbiasa minum kopi sambil merokok dulu di pagi hari, kami mencari tempat yang nyaman untuk merokok. Sampai lah kami di kedai kopi kecil di pojok pasar. Tempat yang nyaman dengan suasana yang santai. Sepertinya orang-orang di Vietnam suka sekali “nongkrong”. Jam masih menunjukkan jam 10:00 pagi, tapi orang masih santai-santai, ngobrol bareng, nonton tv, baca koran, dan tidak ada tanda-tanda mereka akan ke kantor atau ke toko masing-masing. 

Kopi di sana disajikan dengan cara yang berbeda dari di Indonesia. Kopi diseduh di wadah dari alumunium, dan madah itu juga berfungsi sebagai saringan, dan ditumpangkan di atas gelas. Selain itu, sepertinya orang Vietnam suka memakai es di setiap minuman mereka, baik minuman yang enak dihidangkan panas atau dingin. Kopi di kedai itu enak dan kental sekali, butuh waktu yang lumayan lama menghabiskan kopi itu, karena tidak bisa langsung “glek”. Kuat & kentalnya seperti expresso. Jadi kami pun menghabiskan beberapa waktu dan beberapa batang rokok di sana. Yang lucu, ada turis lain di sana yang mengenali kami dari Indonesia, karena aroma asap rokok kami yang khas. Kebetulan kami sangu rokok waktu berangkat.

Setelah dari kedai kopi itu, kami ke pasar. Di dalam pasar ini pun, semua tertata rapi dan bersih... tidak ada sampah atau bau tak sedap dari genangan. Aroma yang tercium hanyalah aroma dari barang dagangan disana. Seperti aroma kopi atau teh di blok penjual kopi dan teh. Aroma bunga dan dupa di blok penjual perlengkapan doa. Aroma makanan di bagian food court pasar. Kami membeli oleh-oleh teh dan kopi. Teh mereka lucu dan bermacam-macam. Ada teh bunga, ada teh air mata naga, dll. Cara mereka menjualnya pun berbeda dan menarik. Untuk kopi, mereka menjual yang masih biji kopi, maupun yang sudah digiling. Semua kopi dan teh masih dalam wadah toples kaca besar. Kita bisa beli berapa gram atau kilo, nanti mereka timbang, mereka masukkan kedalam plastik kemasan, dan mereka sediakan alat penyegel plastik. Jadi kita bisa tahu, kalau tehnya asli dari yang kita pilih. Sesudah itu kami melihat-lihat yang lain. Sebelumnya kami sudah sepakat, tidak kalap belanja di awal, karena masih ada 2 negara lain yang belum kami kunjungi.
Lalu siangnya kami istirahat di tempat yang seperti alun-alun kota. Merokok dulu dan foto-foto. Berikutnya kami mau ke klenteng-klenteng. Dengan berbekal peta, dan belajar menjadi pembaca peta, kami jalan kaki, setelah sekian jauh perjalanan, akhirnya kami sampai di klenteng pertama. Tempatnya tenang dan bersih, aroma dupa tercium di udara. Kami masuk dan duduk, melihat-lihat sambil beristirahat setelah jalan panjang yang melelahkan. Di meja-meja persembahan ada patung dewa didandani dengan pakaian yang cantik dan sekitarnya ditata seperti singgasana yang megah, berwarna-warni, berlampu-lampu, dan berbunga-bunga. Kalau kita memasukkan uang persembahan, ada petugas doa yang kemudian membacakan doa-doa untuk si penyumbang. Kami beli hio, dan berdoa juga, menurut keyakinan kami masing-masing, tentunya. Karena doa yang kita panjatkan di tempat manapun dan di rumah ibadah apapun, tetaplah doa, wujud komunikasi kita dengan Sang Pencipta.
Sepanjang hari itu kami jalan kaki dari satu kelenteng ke kelenteng lainnya. Paling terakhir kami kunjungi ada klentheng dengan dewa Sun Go Kong & Hakim Bao, yang biasanya ku tonton di TV, waktu kecil dulu. Lucu juga. 

Tak terasa, hari menjelang sore. Akhirnya kami putuskan kembali, tapi naik taksi. Waktu diurut-urut, ternyata kami berjalan jauh sekali, ada mungkin lebih dari 25 km (WOW!!! Rekor). Hari panjang & melelahkan, tapi menyenangkan.
Keesokan harinya kami mau jalan-jalan ke pasar yang menjual atribut bekas perang vietnam & amerika. Soalnya ada yang titip tas tentara gitu dech. Tapi sebelumnya, kami cari tiket bis dulu untuk ke Kamboja. Ada banyak agen bis di dekat hotel, seperti terminal kecil. Harga tiketnya USD $ 10.
Di pasar yang kami tuju, ternyata selain pasar yang khusus jual atribute bekas perang, ada juga mesin-mesin dan perlengkapan tukang dan bangunan. Wah, kalau suamiku lihat atau ikut di pasar ini, bakalannya dia yang kalap belanja J.
Makan di warung makan pinggir jalan di Vietnam, sangatlah nyaman. Karena jalanan dan trotoar bersih, jadi makan pun serasa di warung makan. Kami memutuskan makan siang, makanan yang tidak ada di Indonesia. Karena kerja di restoran, jadi tetap saja wisata kuliner :). Ada satu warung pinggir jalan, yang jual mi seperti pentil, dengan sayuran segar dan kuah serta daging seperti soto. Karena kami tidak tau nama makanan itu, dan penjualnya juga tidak bisa bahasa Inggris waktu kami tanya apa nama makanan itu, jadi kami menyebutnya “soto vietnam”.
Malamnya, kami jalan-jalan ke arah yang berlawanan dengan arah tadi siang. Katanya di sana ada pasar lain, jadi kami jalan kesana, sekalian cari makan malam yang lain. Di pasar itu ada yang jual Banh Mi, jadi kami beli Banh mi untuk dinner. Lalu ada 1 gerobak penjual minuman yang beda dari Indonesia. Yang dia jual seperti dawet atau wedhang ronde, tapi lagi-lagi mereka jualnya pakai es dan rasanya aneh, seperti minum air gula. Sepertinya orang Vietnam tidak terbiasa minum-minuman panas. 
Sesudah itu, kami kembali ke hotel dan packing untuk melanjutkan perjalanan ke Kamboja. Selamat istirahat dan tunggu cerita selanjutnya “Jalan-jalan di Kamboja.

8 comments:

  1. Jiwa petualangku bergetar membaca cerita sobat,tapi apa daya.
    asyik juga kalau punya duit banyak ya..

    ReplyDelete
  2. Rinko @ : thx dah comment di Diary Melda. Jalan-jalan kalau masih Indocina tidak terlalu banyak ongkosnya kok. Tiket pesawat airasia masih murah, hotel disana lebih murah drpd hotel Jkt per malamnya. Makanan harganya masih standar. Paling nanti untuk uang jajan oleh2-nya yang sedikit harus disiapkan... Hhehehe...
    Kira-kira 2,5 - 3 juta lah untuk liburan 5 hari, sdh semuanya + uang jajannya. Aku menabung 1 tahun untuk jalan-jalan itu :) Mau coba???

    ReplyDelete
  3. Terimakasih di atas ke sudian anda berkunjung ke laman kami. Jika tidak keberatan. Sila berkunjung ke:

    1) http://www.mybrhom.com/


    Sebagai tanda sokongan anda. Sila like page kami:

    2) https://www.facebook.com/pages/BR-HOM-PLUS/227931176739

    Kerjasama anda. Amat kami hargai.

    ReplyDelete
  4. salam agan semua tolong kunjungi blog saya di http://adf.ly/4boeQ
    maklum newbie gan... :D

    ReplyDelete
  5. Hai, Melda.
    Aku nyasar ke sini, stelah browsing soal Kamboja dan Vietnam. Kamu di vietnam nya juga ke HCMC aja dan keliling kota aja ya? Nggak ke tujuan wisata khusus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Ceritabendi,
      Terima kasih dah nyasar mampir di diarymelda :) Waktu aku di Vietnam cuma keliling kota HCMC aja, ga jalan2 ke tujuan wisata khusus. Selain itu wisata yang kami tuju waktu itu adalah PASAR "bershoping-shoping ria" hehehe...
      Tapi juga karena waktu liburannya ga panjang, jadi menikmati yang bisa dinikmati dalam waktu singkat aja.

      Delete
  6. Hi Melda, pernah ke Thailand juga ? Biaya hidup Tahiland dengan Vietnam, mana yang lebih murah ?
    Thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo James Samuel, thanks sudah mampir blog Diary Melda.

      Kalau menurut saya sih biaya hidup di Vietnam lebih murah dari di Thailand.... yang berbeda, di Thailand untuk sistem transport sudah maju, ya kira-kira seperti Jakarta lah ... (Catatan: waktu itu saya di Bangkok)
      Tapi kalau saya suka di Vietnam, masih terasa suasana tempo doeloe-nya :)

      Delete